Pria Perokok Akan Menjadi Kurang Jantan dan Sulit Punya Anak

pria perokok

Sebuah riset menemukan, pria yang senang merokok cenderung kurang jantan alias sering mengalami disfungsi ereksi. Akibatnya kemudian, pria perokok juga akan sulit punya anak. Apalagi rokok juga membuat kesehatan si perokok terganggu. Artinya, pria lebih jantan dan sehat bila tidak merokok. Semua kondisi itu seolah bertolak belakang dengan iklan-iklan rokok yang banyak bertebaran di media massa. Lihat saja rokok identik dengan sosok pria yang gagah, kuat, macho, berani maupun petualang sejati. Iklan tersebut dinilai sangat bertentangan dengan produk yang dijual.

Faktanya, merokok justru bisa menurunkan kejantanan seorang pria. Sejumlah penelitian dan para dokter kandungan mengungkapkan, merokok dapat menurunkan kualitas sperma pria. Tak hanya itu, kebiasaan merokok juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi.

“Sesuai tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tahun ini, yaitu suarakan kebenaran. Kalau kita lihat iklan rokok, kan iklannya bagus-bagus. Tapi, di balik itu semua bener enggak, sih. Nyatanya, rokok hanya akan merusak kesehatan,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Lily Sulistyowati, Selasa (25/5/2016).

Seperti pernah dijelaskan oleh dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Budi Wiweko, merokok menimbulkan Reactive Oxygen Species (ROS) yang menghasilkan radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas tersebut dapat merusak materi genetik sperma. Akibatnya, sperma dengan materi DNA yang rusak tidak mampu membuahi sel telur.

Kebiasaan merokok juga akan merusak pembuluh darah, termasuk di penis, sehingga muncul masalah disfungsi ereksi. Merokok pun bisa menyebabkan pria kehilangan jakunnya jika sudah terkena kanker pita suara. Jadi, tidak merokok justru bisa membuat pria lebih jantan.

Tidak hanya itu, rokok juga bisa menyebabkan kanker tenggorokan, seperti yang dialami Robby  Indra Wahyudi di bawah ini. Gara-gara rokok, dia tidak bisa mencium bau (aroma makanan, bau parfum, dan lain-lain), jakunnya hilang, tidak bisa bicara, bahkan tidak bisa meludah kayak seperti orang sehat.

Sedihnya, jumlah pria perokok di Indonesia saat ini merupakan yang tertinggi di dunia. Berdasarkan data terbaru dari The Tobacco Atlas 2015, jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun mencapai 66 persen.

Rokok seharusnya tak perlu lagi diiklankan di televisi, media sosial, maupun iklan luar ruang seperti billboard. Namun, menurut Lily, untuk mengatur hal ini perlu kerjasama berbagai pihak terkait, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika dan pemerintah daerah.

(tabloid-nakita.com)

Leave a Comment