Mengapa Tes Kesehatan Pria Sebelum Menikah Itu Penting?

Memiliki keturunan adalah salah satu tujuan sebagian besar pasangan menikah. Karena itu, pemeriksaan kesehatan kedua calon pengantin menjadi sangat penting dilakukan sebelum menikah. Pemeriksaan ini berfungsi untuk mendeteksi adanya kelainan genetik dan risiko penyakit menular di kemudian hari.

online-pharmacy5

Khusus bagi pria, beberapa penyakit seperti diabetes melitus (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), kelainan jantung, penyakit menular seksual (PMS) termasuk hepatitis B, dan HIV/AIDS dapat menyebabkan gangguan pada produksi dan kualitas sel sperma, serta gangguan selama kehamilan yang meningkatkan risiko bagi janin.

Menurut Dr. Irman Christiono, SpOG dari Siloam Hospitals TB Simatupang, 30 % masalah infertilitas datang dari pria yang merupakan gangguan kesehatan reproduksinya.

Dr. Irman menyarankan agar pre-marital checkup dilakukan 6 bulan sebelum pernikahan dilangsungkan dan dapat dilakukan kapanpun sepanjang kehamilan belum berlangsung.

Pria sangat disarankan untuk melakukan gaya hidup sehat, seperti pola makan yang sehat dan bergizi, pola istiharat yang cukup, hindari merokok, minuman keras, stres, dan aktivitas sauna yang intens, agar menghasilkan kualitas sel sperma yang lebih baik. Selain hal-hal di atas, pria perlu  pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sebelum menikah.

1. Pemeriksaan fisik atau Anamnesis.

Pemeriksaan ini meliputi data dan riwayat kesehatan pria. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui status kesehatan secara menyeluruh, sehingga riwayat kemungkinan adanya kelainan atau permasalahan pada kehamilan dan tumbuh kembang anak yang dilahirkan oleh ibu nanti dapat diketahui secara dini, misalnya: talasemia, buta warna, hemofilia, dan lain-lain.

Dr Irman mengungkapkan bahwa calon pasangan yang akan menikah nantinya memiliki pemahaman jika orangtua atau garis keturunannya mengidap penyakit genetik, maka anak yang akan lahir nantipun beresiko mengidap penyakit yang sama.

2. Pemeriksaan penunjang.

– Pemeriksaan Laboratorium dan radiologi.

Pemeriksaan ini meliputi test darah lengkap (hemoglobin, platelet, laju endap darah, sel darah putih, complete blood count, MCV/MCH/MCHC (untuk mengetahui hubungan antar sel-sel darah) dan pemeriksaan jantung dan paru-paru.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada kelainan atau penyakit yang sedang berlangsung saat ini, serta riwayat penyakit kronis. Dengan pemeriksaan laboratorium, dapat diketahui kemungkinan penyakit risiko tinggi, seperti kecenderungan diabetes melitus (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), kelainan jantung, adanya infeksi saluran reproduksi/infeksi menular seksual (ISR/IMS) dan penyakit infeksi lain, seperti sifilis, gonorrhea, Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan penyakit hepatitis.

Penyakit-penyakit tersebut dapat mengakibatkan gangguan pada proses pembuahan sel telur dan sel spermatozoa, atau menimbulkan gangguan selama kehamilan dan meningkatkan risiko kelainan janin.

– Golongan darah dan tipe rhesus.
Pemeriksaan ini penting dilakukan agar pasangan suami-istri mengetahui rhesus darah pasangan masing-masing. Jika rhesus antara suami dan istri bersilangan, maka kualitas keturunan otomatis terpengaruh. Jika seorang wanita (rhesus negatif) menikah dengan pria (rhesus positif), maka kemungkinan memiliki bayi pertama berrhesus negatif atau positif lebih besar dan tidak memiliki masalah yang berarti. Namun jika di kehamilan kedua, janin berrhesus positif, kehamilan ini berbahaya. Karena antibodi antirhesus dari ibu dapat memasuki sel darah merah janin. Sebaliknya, bila wanita ber-rhesus positif dan pria negatif, maka kehamilan cenderung normal.

Konsultasi: Dr. Irman Christiono, SpOG, Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta.

sumber: 1health.id

Leave a Comment