Masalah Kesehatan yang Perlu Diwaspadai Pria Macho

macho

Bagi sebagian pria, tubuh tegap berotot memperlihatkan kekuatan sekaligus kejantanan. Namun di sisi lain, imaji ini menyulitkan diri mereka sendiri kala berhadapan dengan kalangan medis.

Tak ingin terlihat lemah, pria macho kerap tak jujur menyatakan masalah kesehatan saat memeriksakan diri ke dokter pria. Hal ini tentu saja berbahaya. Demikian hasil tiga penelitian baru-baru ini, sebagaimana dilansir CBS News.

“Penelitian-penelitian ini menyoroti satu teori soal mengapa maskulinitas, secara umum, berhubungan dengan minimnya laporan kesehatan di kalangan pria,” kata Mary Himmelstein, yang terlibat dalam tiga penelitian gender dan obat-obatan.

Lebih jauh, kandidat doktoral di jurusan psikologi Rutgers University di Piscataway, New Jersey, ino menyatakan, “Pria yang terjebak dalam budaya salah kaprah semacam ini merasa harus selalu berlagak tangguh dan berani.”

Jika tidak berlagak demikian, menurut Himmelstein, pria merasa kehilangan maskulinitas atau kejantanannya. Hal ini tentu saja membahayakan, karena mereka bakal enggan mencari perlindungan preventif dan menunda pengobatan sekalipun sakit atau cedera.

Untuk mengetahui alasan pria lebih mengedepankan fisik dan malah mengesampingkan urusan kesehatan mereka sendiri, Himmelstein dan rekannya, Diana Sanchez, menyurvei 250 pria secara online soal persepsi gender dan preferensi dokter.

Jawaban yang diperoleh dari 250 pria—semuanya lulusan perguruan tinggi—membuktikan pria maskulin cenderung memilih dokter pria. Intinya: semakin macho pria, semakin minim kejujurannya soal kesehatan di hadapan kalangan medis pria.

Hasil penelitian ini dimuat di jurnal Preventive Medicine, baru-baru ini. Sebelumnya, Himmelstein dan Sanchez telah melakukan penelitian pendahuluan yang dimuat di Journal of Health Psychology. Ketika itu, mereka meneliti 500 pria dan wanita.

Terbukti, pria maskulin “konvensional” jarang mencari perlindungan kesehatan. Mereka lebih sering menyembunyikan gejala gangguan kesehatan yang dirasakan. Sekalipun masalah kesehatan mereka lebih parah ketimbang wanita atau pria yang tidak begitu maskulin.

Tim peneliti juga menemukan fakta bahwa wanita yang memandang dirinya “tangguh” dan “mandiri” juga jarang mencari perlindungan kesehatan, atau menyatakan secara jujur masalah kesehatan mereka di hadapan dokter dibanding wanita berkarakter lemah lembut.

Tapi, menurut Himmelstein, ada baiknya wanita tak perlu bersikap “sok tangguh” layaknya pria macho. Karena toh “wanita tidak akan kehilangan status atau respek [harga dirinya] sekalipun menampilkan ketidakmampuan dan kelemahan.”

Profesor Timothy Smith, guru besar jurusan psikologi di Brigham Young University di Provo, Utah, menyatakan hasil penelitian kali ini merefleksikan benturan-benturan sosial di masyarakat yang telah berlangsung sekian lama.

“Keyakinan yang membudaya, terutama soal ketangguhan, berkembang atas dasar satu alasan,” katanya. “Beberapa dekade lalu, saat ekonomi kita bersandar pada pekerja manual, kondisi fisik jelas dibutuhkan agar mampu terus bekerja dan menghasilkan keuntungan.”

Kini, akses perlindungan kesehatan jauh lebih mudah dijangkau. Tapi di sisi lain, ketangguhan fisik seseorang justru dibarengi keengganan untuk memeriksakan kondisi kesehatan. Hal ini, menurut Smith, merupakan konsekuensi yang membahayakan.

“Menutup-nutupi penyakit justru mengindikasikan kelemahan emosional. Hal ini jelas-jelas keliru,” kata Smith. Sang profesor pun menantang mereka yang menolak memeriksakan kesehatan lantaran tak ingin dianggap makhluk lemah.

“Lebih baik mengenyahkan penolakan diri [denial] ketimbang menunda perawatan kesehatan,” Smith menegaskan. “Ketika orang takut mengadukan penyakit mereka kepada ahli medis, mereka menolak diri sendiri dan manfaat kesembuhannya.”

Himmelstein menyarakan agar “pria macho berkenan memeriksakan diri ke dokter saat jatuh sakit, demi mempercepat proses penyembuhannya.” Bagaimanapun kesehatan jauh lebih penting ketimbang penampilan fisik semata.

(cnnindonesia)

Leave a Comment